Resensi Buku Botchan: Guru Muda Memberontak Sistem sebuah Sekolah

Deskripsi Buku

Judul buku : Botchan

Penulis : Natsume Soseki

Penerjemah : Indah Santi Pratidina

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 224 halaman


Botchan, menjadi salah satu novel yang popular dan disukai di Jepang semenjak tahun diterbitkannya. Novel ini ditulis oleh Natsume Soseki yang merupakan salah seorang penulis terbesar dalam sejarah kesusastraan Jepang. Novel ini berceritakan tentang pemberontakan yang dilakukan oleh seorang guru muda terhadap sebuah sistem sekolah di desa Matsuyama. Semenjak diterbitkannya tahun 1906 hingga saat ini ceritanya masih disukai oleh masyarakat Jepang karena alur cerita dan lelucon yang diberikan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di sana. Bagi orang Indonesia, mungkin akan sulit untuk menerima lelucon yang dimaksud dalam buku ini, hal itu dikarenakan setiap daerah memiliki selera humor yang berbeda. Namun, buku ini kerap kali dibahas dalam dunia kependidikan di Indonesia berkat banyak pelajaran yang bisa dipetik di dalamnya.

Cerita ini bermulakan ketika si tokoh utama novel ini masih kecil yang hidup di tengah keluarga yang tidak pernah mendukungnya dalam segi apapun, dia bahkan dicap sebagai anak nakal, tidak berguna, dan tidak akan menjadi apa-apa oleh orangtuanya. Padahal kita tahu bahwa orangtua seharusnya menjadi figur baik yang seharusnya membantu perkembangan mental seorang anak. Mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang terdekat membuatnya menjalani hidup dengan tidak maksimal dalam mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Utomo, P & Pahlevi, R. (2022) yang mengatakan bahwa yang menjadi salah satu penyebab terjadinya kemerosotan karakter seseorang adalah ketika kecilnya mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari keluarga, atau keluarga yang tidak memberikan perhatian terhadap perkembangannya. Begitu juga dengan tokoh utama novel ini, di dalam rumahnya hanya seorang asisten rumah tangganya yang bernama Kiyo yang selalu menganggapnya sebagai manusia yang patut disayangi dan diberikan perhatian. Kiyo memanggilnya dengan panggilan Botchan yang berarti panggilan sopan untuk anak laki-laki dari keluarga terpandang di Jepang, atau dengan bahasa lain tuan muda.

Saat usia yang masih sangat muda, kedua orangtuanya meninggal dunia sehingga membuatnya harus bisa hidup mandiri lebih awal. Kakaknya menjual rumah dan memberikan separuh uang hasil penjualan rumah ke Botchan. Setelah mendapatkan uang, Botchan berpikir untuk menjalani hidup dengan caranya sendiri. Dia kemudian berpikir jika dia sekolah dengan uang tersebut, maka dia masih mempunyai sisa sedikit untuk kehidupannya. Karena ingin terus sekolah, dia kemudian bekerja di sela sekolahnya untuk membiayai hidup. Saya melihat di sini bahwa meskipun hidup dalam keterbatasan, tidak ada keluarga sebagai tempat untuk bergantung lagi, Botchan tetap terus melanjutkan sekolahnya. Hal itu dikarenakan dia menganggap bahwa sekolah akan membantunya di kemudian hari, dan memberikan peluang yang besar untuknya dibandingkan tidak sekolah. Pemikiran ini sangat perlu dimiliki oleh setiap orang, karena pendidikan akan mengubah cara pandang kita dalam menghadapi dunia dan segala ke hiruk-pikuk di dalamnya. 

Setelah menyelesaikan sekolahnya, dia diminta untuk menjadi seorang guru matematika di sebuah desa terpencil yang letaknya jauh dari Tokyo. Setelah berpikir matang, dia memutuskan untuk pergi ke desa tersebut meskipun gaji perbulan yang akan diterimanya hanya sebesar 40 yen. Ini merupakan salah satu keputusan yang sangat membutuhkan pertimbangan yang berat menurut saya. Hal itu dikarenakan akan sulit menemukan orang yang siap mengabdikan diri ke desa yang jauh dari tempat kelahirannya, apalagi Botchan lahir dan besar di kota sebesar Tokyo dan terbiasa hidup sebagai anak kota. Menurut saya keputusannya ini bisa dijadikan rujukan bagi guru-guru di Indonesia yang ingin mengabdikan diri menjadi guru, namun ditempatkan di daerah pelosok oleh pemerintah. Novel ini bisa menjadi rujukan ataupun pembelajaran sebelum memutuskan hal tersebut. 

Setibanya di Matsuyama, yaitu desa tempat dia akan mengabdikan diri sebagai guru, Botchan menyaksikan perbedaan antara Tokyo dan Matsuyama yang akan dihadapinya. Kita juga bisa membayangkan perbedaan tersebut, jika di kota teknologi sudah berkembang maju, di desa kebalikannya. Bukan hanya perbedaan dalam segi teknologi yang memudahkan kehidupan manusia, melainkan juga sikap dan karakter antara masyarakat di kota dan di desa juga berbeda. Hal itulah yang ditemukan Botchan ketika berada di sana. Dia melihat betapa jauhnya perbedaan tersebut, apalagi ketika mengajar di kelas, siswa di kelasnya tersebut mengatakannya sebagai seorang guru yang tidak berpengetahuan karena tidak bisa menjawab sebuah soal matematika. Melihat reaksi siswa yang terus mem-bully-nya memicu reaksi yang tidak seharusnya diberikan oleh seorang guru ke siswanya. Botchan marah dan berbicara bla-blakan kepada siswa-siswa di kelas tersebut. Padahal seperti yang dituturkan oleh Saprin Peren (2023) setelah melakukan penelitian di salah satu sekolah di Flores mengatakan bahwa guru yang membalas ejekan siswa dengan kemarahan akan mendapatkan dampak buruk bagi siswa. Siswa akan meniru perilaku guru tersebut, atau siswa semakin tidak menaruh hormat kepada guru yang berperilaku kurang baik. Perilaku itu bisa seperti guru yang suka mem-bully, berbicara kasar dan kotor, atau mudah emosi selama pembelajaran berlangsung.

Kemarahannya tentu saja mendapatkan teguran dari kepala guru dan juga kepala sekolah. Saya menggaris bawahi sebuah kalimat teguran yang didapatkan Botchan dari kepala guru di sekolah tersebut, bunyinya seperti ini “Berbicara bla-balakan (marah) di depan siswa membuktikan bahwa kamu adalah seorang guru yang tidak berpengalaman.” Saya setuju dengan kalimat ini, sebagai seorang guru kita tidak boleh baperan terhadap segala tingkah laku siswa. Hal itu dikarenakan selain mengajar kita juga sebagai seorang pendidik untuk mereka. Apabila guru marah dan berbicara kasar kepada siswa, bisa jadi mereka akan menirunya kelak. Oleh sebab itu, sebagai seorang guru sebaiknya bisa mengontrol perkataan dan perbuatan baik di lingkungan sekolah atau pun di luar sekolah. Guru adalah manusia yang akan selalu digugu dan ditiru di manapun kita berada, baik oleh siswa ataupun masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

Novel ini mengajarkan bahwa ketika seseorang sudah memutuskan untuk menjadi guru, maka banyak pantangan yang harus dijauhinya. Seperti halnya Botchan yang mendapat ejekan dari siswa-siswa di sekolah tempat dia mengajar karena ketahuan pergi ke kedai mie. Kedai mie memiliki derajat yang sama dengan bar di Jepang kala itu, sehingga apabila seorang guru yang merupakan pendidik pergi ke sana, otomatis mencoreng profesi yang dijalaninya. Jika dibawa ke dunia saat ini, seorang guru harus menjaga dimana dia berada, dan apa yang dia ucap dan lakukan. Jangan sampai siswa meniru hal buruk yang dilakukan gurunya. Jika ingin berkata, berkatalah yang baik. Jika ingin melangkah, langkahkan kaki ke tempat baik, jadi tidak ada alasan bagi siswa untuk mengikuti keburukan yang gurunya lakukan.

Botchan dalam menjalani kehidupan terkenal dengan sifatnya yang suka berterus terang dengan apa yang tidak disukainya. Tidak hanya itu, sifat lainnya yang menginginkan lingkungan sekolah menjadi tempat yang baik dan menjadi teladan bagi semua orang di dalamnya membuat Botchan ingin menegakkan keadilan dan kejujuran tatkala ada oknum guru yang berbuat licik dan pengecut di sekolah. Botchan bersama dengan guru matematika lain, yaitu Hitto ingin menguak kelicikan yang dilakukan oleh kepala guru. Hal itu dikarenakan karena masalah pribadi, kepala guru tersebut membuat guru sejarah terpaksa dipindahkan ke sekolah di pedalaman yang masih tidak aman karena peperangan yang masih terjadi waktu itu. Akhirnya Botchan dan Hitto dijebak dalam tawuran antar sekolah yang dijadikan sebagai kambing hitam asal muasal tawuran terjadi. Keduanya masuk surat kabar yang menjelek-jelekkan nama mereka sebagai guru sehingga memicu lahirnya tawuran dan menjadikan mereka seorang guru yang tidak pantas untuk ditiru. Karena surat kabar sudah beredar di masyarakat, orangtua para siswa menginginkan mereka dipecat karena dituding tidak pantas menjadi seorang guru. 

Botchan melihat suasana di sekolah tersebut tidak lagi nyaman untuk ditinggali. Dia melihat bahwa siswa terlahir di lingkungan yang bermental pengecut, suka mem-bully. Meskipun awalnya dia menginginkan balas dendam karena perlakuan tersebut, namun akhirnya dia berpikir bahwa apabila dia tinggal di sana lebih lama, bisa saja dia menjadi salah satu bagian dari mereka, yaitu seseorang yang memiliki mental pengecut, licik, suka mem-bully. Karena berpikir itu bukanlah lingkungan pendidikan yang sehat, dan dia tidak memiliki kekuatan dalam mengatasinya dia akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dan kembali ke Tokyo.

Keputusan yang dipilih Botchan menurut saya tidak sepenuhnya salah. Memang benar Botchan seharusnya bertahan di sekolah tersebut dan bekerja sama dengan guru di sana untuk memperbaiki sikap dan karakter siswa. Seorang guru sudah seharusnya berusaha lebih kuat untuk mengubah perilaku siswa dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Namun di lain sisi, menurut saya tindakan Botchan tidak juga salah. Botchan hanya berusaha untuk tidak terjerumus di lingkungan yang kurang sehat dalam membentuk sikap dan karakter manusia. Hal itu dikarenakan tidak hanya siswa yang memiliki mental pengecut, tetapi guru-guru di sana juga, bahkan masyarakat. Jadi untuk terhindar dari penularan sikap tersebut, lebih baik kita yang menjauh.

Buku ini akan membuat kita memikirkan beberapa keputusan yang bisa dilakukan ketika berada di posisi menjadi guru seperti Botchan. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalamnya membuat kita menyadari kenyataan lingkungan pendidikan sebenarnya seperti apa. Selain itu, sudah sebaiknya sebagai seseorang yang memasuki lingkungan baru guru mempelajari sosial kultural lingkungan tersebut sehingga meminimalisir terjadinya culture-shock seperti yang dialami Botchan pada saat dia datang ke Matsuyama.


Rujukan

Peren, Sipri. (2023). Guru Marah, Apa Dampaknya Bagi Murid dan Guru Sendiri sebagai Pendidik? (di akses tanggal 07 Februari 2025 pada Dopoedu.com.)

Utomo, P., & Pahlevi, R. (2022). Orang tua, anak dan pola asuh: studi kasus tentang pola layanan dan bimbingan keluarga terhadap pembentukan karakter anak. Jurnal Hawa, 4(1), 91-102.

Soseki, Natsume. (2022). Botchan. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Cetakan ke-11.

Komentar